Dalam kegiatan kebhinekaan yaitu kami berziarah ke makam syech Abdularazi. Makam Syech Abdularazi adalah sebuah tempat bersejarah dan spiritual yang terletak di kota Ternate, Maluku Utara, Indonesia. Syech Abdularazi adalah seorang tokoh agama Islam yang memiliki pengaruh besar di wilayah tersebut pada abad ke-16.
Syech Abdularazi dikenal sebagai seorang ulama dan sufi yang memperjuangkan ajaran Islam di wilayah Nusantara, khususnya di kepulauan Maluku. Dia datang dari Persia (Iran modern) dan menetap di Ternate pada masa pemerintahan Kesultanan Ternate.
Makam Syech Abdularazi di Ternate menjadi pusat ziarah dan tempat beribadah bagi umat Islam. Makam ini menjadi tempat yang sakral bagi masyarakat setempat dan juga menjadi destinasi spiritual bagi wisatawan yang tertarik dengan sejarah Islam di Indonesia.
Selain sebagai tempat ziarah, makam ini juga menjadi tempat untuk mempelajari dan merenungkan ajaran-ajaran Islam yang diajarkan oleh Syech Abdularazi. Banyak yang percaya bahwa mengunjungi makam ini dapat memberikan berkah dan keberkahan bagi mereka yang berdoa dan menghormati tokoh sufi ini.
Keberadaan makam Syech Abdularazi juga merupakan bagian dari warisan budaya dan sejarah Islam di Indonesia. Tempat ini tidak hanya memperingati jasa-jasa beliau dalam penyebaran agama Islam, tetapi juga memperkuat identitas kultural masyarakat setempat.
Makam Syech Abdularazi tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kedamaian antarumat beragama di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan dalam membangun masyarakat yang harmonis dan beradab.
makam syech Abdularazi yang diberikan julukan Dato Karama. Beliau dijuluki Dato Karama karena Datuk yang memiliki keramat. Dato Karama adalah salah satu ulama yang pertama kali membawa agama Islam ke Kota Palu. Beliau berasal dari Sumatra Barat. Dato Karama memiliki tujuan utama datang ke Kota Palu yaitu mengislamkan raja-raja yang berada dikota Palu. Dato Karama menyebarkan agama Islam di Kota Palu sejak abad ke 17 dan beliau meninggal di Kampung Lere. Salah satu keajaiban yang dimiliki dato Karama yaitu beliau bisa menanam mrica pagi hari dan disore harinya mrica itu sudah matang.







